Dukung Muhammad Ridwan untuk menjadi ketua HMJ EA periode 2011-2012

Album Kenangan...

Jumat, 05 November 2010

Rekonstruksi Mindset Mahasiswa Akuntansi

Pendidikan formal berperan besar dalam merekonstruksi mindset. Perbedaan mindset sangat terasa antara bidang ilmu yang satu dengan lainnya. Dan faktanya, mindset penggiat dalam satu bidang ilmu cenderung sama. Kesamaan ini tentu bukan tanpa sebab. Layaknya asap yang tidak akan ada tanpa adanya api, fenomena tentang kesamaan mindset ini pasti disebabkan oleh fenomena dominan yang mereka rasakan bersama-sama. Dalam konteks mahasiswa, sistem yang dominan tentu saja pendidikan formal. Mindset sering disebut paradigma atau kerangka berpikir. Mindset merupakan pondasi yang sangat dominan memengaruhi tindakan manusia. Seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, seperti itu pula tindakan dan mindset berkolerasi. Mungkin, karena ini pula ekonom-ekonom Indonesia sebagian besar tidak sepaham dengan politisi-politisinya. Mindset pendidikan ekonomi di Indonesia yang cenderung ‘liberal’ dan ‘global kebarat-baratan’, berseberangan dengan pendidikan politik yang cenderung ‘sentralistis’ dan ‘nasionalis fanatis’. Akuntansi yang notabene diajarkan dalam sistem pendidikan formal juga berpengaruh terhadap mindset mahasiswanya.

Kecenderungan mindset yang kaku sedikit banyak mewarnai tindakan mahasiswa akuntansi. Hal ini disebabkan kurikulum akuntansi yang memandang dunia hanya dalam warna hitam dan putih. Berbeda dengan kurikulum ilmu sosial lain yang lebih banyak mengasah daya analitis dan kreativitas. Mindset mahasiswa akuntansi semacam ini bermasalah jika diterapkan dalam kehidupan nyata. Pasalnya, akuntansi adalah ilmu sosial yang berbeda dari ilmu sosial lainnya. Perbedaan pertama adalah dalam hal kebenaran yang subjektif dari ilmu sosial. Akuntansi sebagai ilmu sosial justru lebih banyak menyerupai ilmu eksakta, dimana benar atau salah adalah sesuatu yang mutlak dan tanpa toleransi. Dengan kecenderungan seperti ini, mahasiswa akuntansi akan cenderung bertindak prosedural dan bersikap seperti hakim dalam kehidupan sosialnya. Perbedaan kedua terkait pada hakikat ilmu sosial yang memerlukan daya analitis lebih fleksibel dibanding ilmu eksakta. Namun, di akuntansi itu kurang berlaku. Nyatanya, kreativitas dan daya analitis tidak diajarkan secara cukup di dalam kurikulum akuntansi. Memang cukup banyak mata kuliah yang mengajarkannya.
Namun secara garis besar, akuntansi tetap terpatok pada pendidikan yang serba standard. Dampaknya, mahasiswa akuntansi akan gagap menghadapi permasalahan riil masyarakat yang selalu berubah dan membutuhkan daya analisis yang dalam. Contoh sederhananya di kelas akuntansi manajemen lanjutan mungkin bisa membuka pikiran kita. Tiga puluh lebih mahasiswa akuntansi kesulitan mengidentifikasi cost driver dari sebuah perusahaan. Definisi cost driver telah dimengerti oleh para mahasiswa. Contoh kasus di buku pun sudah mereka mengerti. Namun faktanya, mereka tetap kesulitan mengidentifikasi cost driver dalam kasus perusahaan yang berbeda dan baru. Kesulitan ini dirasakan bukan semata-mata ketidaktahuan, melainkan lebih kepada kesulitan mengganti mindset yang ‘serba standar’ menjadi mindset yang lebih fleksibel. Mereka tidak terbiasa menganalisis suatu peristiwa secara mendalam karena terbiasa berpikir menurut standar. Padahal, kondisi masyarakat selalu berubah. Kondisi zaman saat ini bahkan cenderung bergolak dan serba cepat. Ketidakbiasaan mereka dalam berpikir fleksibel dan kreatif akan berdampak pada kegagalan mahasiswa menghadapi masalah-masalah sosial yang bergolak dan serba cepat. Dengan demikian, sperombakan kurikulum akuntansi dibutuhkan untuk merekonstruksi mindset mahasiswa akuntansi seperti ini.
Kurikulum yang lebih menekankan pada aspek standar di awal semester perlu diubah. Mata kuliah yang memaksa mahasiswa berpikir dan menganalisis suatu permasalahan secara kreatif seharusnya difokuskan di awal semester. Alasannya karena mahasiswa baru adalah mahasiswa yang sangat mudah dibentuk, mirip seperti kertas putih yang tinggal ditulisi apa saja oleh sistem, dan kemudian melahirkan agen-agen sistem yang baru. Langkah kedua yang perlu dilakukan adalah membuka ruang berpikir mahasiswa. Pembukaan ini perlu dilakukan agar mahasiswa melek terhadap ilmu-ilmu sosial lain seperti budaya, politik, filsafat, hukum, dan lainnya. Di dalam kurikulum memang ada mata kuliah ‘alternatif wajib’ yang membahas beberapa bidang ilmu di atas. Akan tetapi, terkesan beberapa mata kuliah tersebut hanya menjadi ‘guyonan’ bagi mahasiswa. Sistem ini perlu diperbaiki, sehingga mata kuliah ilmu-ilmu sosial di luar ekonomi bisa menjadi sarana pembuka ruang yang serius bagi pikiran-pikiran mahasiswa akuntansi. Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah doktrinasi bahwa ilmu sosial sangat terkait satu sama lain. Akuntansi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri. Kesuksesan penerapan akuntansi sangat berhubungan dengan kesuksesan penerapan bidang-bidang ilmu sosial yang lainnya. Dengan doktrinasi yang cukup, mahasiswa akuntansi secara sadar akan mulai membaca dan mencari tahu ilmu-ilmu sosial lainnya. Perubahan memang membutuhkan keberanian awal.
Terkadang satu langkah perubahan terkesan sangat ekstrem. Akan tetapi, justru dengan loncatan yang jauh dan inovasi ‘breaktrough’ itulah pencapaian yang luar biasa akan lebih mampu terealisasi. Saatnya melakukan rekonstruksi berpikir mahasiswa akuntansi. Seperti kata Descartes, ‘cogito ergo sum’, aku berpikir maka aku ada.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Great Morning ©  Copyright by Pendidikan Akuntansi's Bloggy | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks